Bo´ Sangaji Kai
bibliography
summary
text notes
list of words

Ringkasan Bo´ Sangaji Kai

Ringkasan ini disediakan oleh by Henri Chambert-Loir
— lihat bukunya: Bo´ Sangaji Kai, hal.lii-lxviii.

Indeks (nomor halaman edisi)

3    8    28    54    57    60    60    68    92    108    114    127    132    137    156    172    180    189    198    204    208    218    232    246    260    284    313    326    337    344    349    366    385    387    399    416    425    431    434    438    441    442    443    446    448    452    452    453    455    472    477

Ringkasan

halaman             
edisinaskah
3 32-33
  • 2.8.1736, “Alamat turunan Sangaji”. Raja Bicara Abdul Ali menyuruh cantumkan dalam Bo´ cerita asal mula keturunan Raja Bima. Raja Bima ke-11, Mawa´a Bilmana, menyerahkan jabatan kerajaan kepada adiknya Manggampo Donggo, sedangkan dia sendiri menjadi Tureli Nggampo (Raja Bicara). Pada generasi berikut, demikian juga Makapiri Solo (anak Manggampo Donggo) menyerahkan jabatan kerajaan kepada adiknya Mawa´a Ndapa. Sebagai tanda peringatan peristiwa tersebut, Makapiri Solo berupaya meluaskan tanah kerajaan. Tradisi ini berlanjut sampai Mantau Uma Jati, yaitu sultan yang kedua (Abi 'l Khair Sirajuddin). (Cerita serupa tetapi lebih panjang dan terperinci terdapat pada h. 43.)
  • Cerita penaklukan tanah-tanah Timur (Solo, Sawu, Solor, Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai, dan Komodo) oleh Makapiri Solo atas suruhan ayahnya Mawa´a Bilmana (lih. juga h. 105). Selanjutnya orang Sumba dengan teratur datang ke Bima membawa upeti. Ketika mereka tidak datang lagi, Raja Mantau Bata Wadu (sultan pertama) menyuruh wakilnya ke Sumba untuk memperbaharui janji yang lama. Demikian seterusnya para sultan menyuruh wakilnya ke Sumba dan menerima utusan dari Sumba, sampai Sultan Abdul Kadim [yang memerintah pada tahun 1736].
  • Tiga belas butir catatan tentang sejarah Goa tahun 1606-1772. Dua kali dicatat bahwa Bima masuk Islam pada tahun 1018 H. (1609/1610 M.) (lih. Held B).
8 17
  • Aturan kedudukan di balai kebesaran Bima, yaitu daftar kelima puluh pejabat yang duduk di Hadat Bima di bawah pimpinan Sultan, Raja Bicara, dan Kadi.
  • Beberapa kaidah pemerintahan: para pejabat tinggi tidak boleh diberhentikan kecuali kalau berkhianat kepada Tanah Bima; kalau ganti jabatan, mereka harus naik martabat, bukan turun; tugas mereka empat, yaitu menyediakan makanan, harta, dan senjata, serta bermufakat.
28 16, 26-31
  • Silsilah pokok raja-raja Bima serta berbagai cabangnya; silsilah ini disimpulkan dalam berbagai gambar dalam edisi di bawah ini.
54 34
  • Dua silsilah tentang raja-raja Dompu dan Sumbawa (yang pertama dalam bahasa Mbojo).
57 B
  • 1645, Sultan Abi 'l Khair bersumpah dengan kedua guru ayahnya (sultan pertama), Datuk Dibanda and Datuk Ditiro: Sultan mengakui status mulia orang Melayu dan memberikan mereka beberapa hak istimewa, antara lain dalam hal upacara sirih puan; disebut tanggal masuknya Islam ke Bima pada 15 Rabiulawal 1050 (5 Juli 1640); tanggal ini adalah kekeliruan untuk 15 Rabiulawal 1030, yaitu 7 Februari 1621.
60 C
  • Fasal yang hampir serupa, yaitu pembaharuan sumpah ini oleh Sultan Abdul Hamid tahun 1789, ketika oleh Gubernur Belanda di Makassar Kampung Melayu hendak dimasukkan di bawah perintah Fetor Bima.
60 35-35a
  • 1805, Raja Bicara Abdul Nabi “mengeluarkan upah haji” bagi para pejabat.
  • 1806, Raja Bicara Abdul Nabi memimpin sidang adat yang mengeluarkan beberapa peraturan tentang hubungan antara orang Bima, Melayu, dan Bugis dari segi hukum.
  • 1753, Sultan Abdul Kadim memimpin sidang: peraturan tentang orang yang membawa lari perempuan dan tentang orang berzinah.
  • 1803, pencatatan cerita usaha perebutan kekuasaan di Bima pada masa awal Islam, termasuk sumpah di Raba Parapi (lih. h. 6).
  • Sultan Abdul Kadim mengeluarkan peraturan tentang zinah.
68 35b-35g
  • 1797, Raja Bicara Abdul Nabi menyuruh salin dalam Bo´ sebuah kumpulan undang-undang sebanyak 119 ayat tentang berbagai hal dan perkara, seperti sistim peradilan (memeriksa seorang tersangka, wewenang hukum beberapa pejabat, upah membicarakan perkara, perkara dengan orang dagang, mengubah keputusan peradilan, salah menuduh, hal tersangka berkesalahan beberapa, bukti seseorang adalah tukang santet), tata sosial (cakupan istilah “orang Melayu” dan “orang Makassar”, masuk-keluar satu dari, hamba dan berbagai jenis pembantu, jabatan gelarang, kewajiban bersedekah, kerja rodi, menyediakan kuda untuk pejabat Belanda, membuat payung dan bendera baru, membuat rumah dan perahu Sultan, mengganti atap dan pagar istana), pertanian (bendungan irigasi, tanah milik pribadi, tanah bengkok, hasil bertani, kerugian yang diakibatkan kuda dan kerbau), hukum perdata (harta, utang piutang, mengingkar janji, membatalkan pertunangan, memberi makan orang kelaparan, menyelamatkan nyawa seseorang, mendapat perahu hilang), dan hukum pidana (berzinah, mencuri, menyimpan barang curian, merusuh, membakar rumah orang, berkelahi, menakutkan, memaki, melukai, menganiaya, membunuh).
92 35g-35h, 36-37
  • Teks Undang-undang Laut Malaka sebanyak 28 bab yang disalin tahun 1819. Teks ini sangat rusak bahasanya sehingga hampir tidak terbaca; dalam edisi di bawah ini, dibandingkan dengan edisi oleh R.O Winstedt & P.E. de Josselin de Jong (1956).
108 38-39
  • Teks Undang-undang Bandar Bima, disalin tahun 1760. Teks ini menyangkut beberapa fasal seperti berbagai jenis bea dan cukai, bea orang Islam dan orang Nasrani, bea perahu dari Jawa dan Makassar-Bugis, jenis orang yang dibebaskan dari cukai, hak Sultan untuk berdagang lebih dahulu dengan kapal pendatang, utang piutang, menebus budak, hamba lari, pengadilan orang dagang, orang dagang berkelahi, menggemparkan negeri, larangan berjalan pada hari Jumat, menumpang perahu dagang, dan menukar real dengan emas.
114 39-42
  • Perjanjian Raja Manuru Salisi dengan orang Belanda di Cenggu tahun 1611, ketika Raja Bima menolong orang Belanda melawan orang Portugis. (Menurut Noorduyn (1987a: 333-334), peristiwa ini terjadi pada tahun 1619.)
  • Perjanjian Raja Bima [Sultan Abi 'l Khair Sirajuddin] dengan Raja Dompu di Raba Karumbu tentang status hukum para hamba yang pindah dari satu negeri ke negeri lain.
  • [1667], Perjanjian Tureli Nggampo [Abdul Rahim] dengan Admiral Truitman di Kota Soma untuk saling menolong di kemudian hari.
  • 1661, Perjanjian Raja Bima [Sultan Abi 'l Khair Sirajuddin] dengan keseluruhan pegawai negeri tentang kewajiban para pegawai untuk melaksanakan tugasnya dengan rajin, jujur, dan mengabdi.
  • November 1667, Perjanjian Raja Bima dengan Raja Balanipa di Mandar agar senantiasa bersekutu dan tolong-menolong, yang diikat setelah Makassar dialahkan oleh Belanda.
  • Perjanjian persahabatan antara Raja Bima [Sultan Abdul Kahir] dan ke-26 orang Bajo yang mengantarkan istri Raja Bima dari Makassar.
  • 1673, Perjanjian di Oi Ule antara Sultan Abi 'l Khair Sirajuddin dan seluruh rakyat Bima; rakyat berjanji akan kekal bertuan pada Sultan, dan Sultan menyatakan, “Aku menjadi nyawa dan kamu sekalian menjadi tubuh”. Disebut nama dari 100 pejabat lebih pada masa itu.
  • 1674, Perjanjian Jeneli Parado dengan Gubernur Jendral Man Sekor [Joan Maetsuyker] di Batavia: wakil Raja Bima mohon ampun dan minta agar kapal-kapal dagang tidak dilarang singgah di Bima.
  • Sumpah Sultan Bima (dicatat tahun 1650) mengikat ikrar setia dengan para pengikutnya.
  • Sumpah Sultan Bima Abdul Kahir (dicatat tahun 1650) meringankan hukum atas 9 orang pengikutnya untuk selama-lamanya.
  • Pernyataan Sultan [Abdul Kahir] memerdekakan orang Wera yang pernah menolongnya waktu diperangi oleh Raja Pekat.
  • 1674, Sultan Abi 'l Khair memperbarui perjanjian ayahnya dengan orang Wera.
  • Idem, lebih terperinci: orang Wera dibebaskan dari sejumlah tugas terhadap pemerintah.
127 43
  • 1750, Salinan sebuah bagian Bo´ lama tentang pembagian jabatan Raja dan Raja Bicara antara dua orang kakak-beradik dari generasi ke generasi, mulai dengan Mawa´a Bilmana [lih. h. 32] sampai dengan Sultan pertama; kisah masuk agama Islam di Bima dari Luwu´; daftar delapan sumpah raja-raja Bima.
132 44
  • 1682, Tureli Nggampo memerdekakan tiga orang anak buahnya di Donggo Bolo.
  • 1750, tentang status beberapa orang di Sumi yang pernah dimerdekakan oleh Sultan Abi 'l Khair.
  • 1661, amanat Sultan Abi 'l Khair tentang batas bagian Manggarai yang pernah diberikan oleh Sultan Abdul Kahir kepada Raja Goa. Disebut juga peristiwa Jeneli Sekuru menanyakan batas tersebut tanpa disuruh oleh Sultan.
  • 1713, Karaeng Bontowa [adik Sultan Nuruddin] mengembalikan kepada Sultan Hasanuddin Tanah Reok (di Manggarai) yang pernah diberikan kepadanya oleh Sultan Abi 'l Khair. Persembahan tersebut disaksikan oleh Fetor Bima.
137 45-50
  • 28.5.1727, Bersidang di Sungai Reok, Sultan Hasanuddin memeriksa perkara upeti yang selama dua tahun (atau lebih) diberikan kepada Daeng Mangaliki. Daerah Manggarai yang pernah diberikan kepada Karaeng Bontowa sudah dikembalikannya kepada Sultan Bima dan oleh karena itu upeti tersebut semestinya diserahkan kepada Tanah Bima.
  • 8.7.1727, Seperginya Sultan, Bumi Luma Rasana´e menetapkan sejumlah ketentuan hukum untuk Tanah Reok dalam 25 perkara seperti kewajiban kesetiaan orang Manggarai kepada Bima, soal pemerintahan, bea cukai, hamba dan budak, utang piutang, orang mengharu-biru, dan status anak orang Bugis Makassar Melayu kawin dengan orang Manggarai.
  • 1776, Sidang Hadat membicarakan orang-orang Daeng Mami yang akan mengikutnya keluar Tanah Bima.
  • 1719, Sultan Hasanuddin menyuruh orang memberitahukan Fetor Bima tentang pemberian peninggalan Paduka Dompu kepada Karaeng Bontowa Mataya.
  • 1693, Raja Bima dan Raja Tambora memutuskan bagiannya masing-masing, yaitu 23 perempuan untuk Bima dan dua kali lebih banyak untuk Tambora.
  • Perjanjian Jeneli Sape dan Jeneli Kadinding di Tambora. Jeneli Kadinding mohon maaf karena ikut Karaeng Jaranika dan sekarang memperbaharui perjanjian antara Bima dan Tambora pada masa Sultan Abdul Kahir. [Fasal ini agaknya lanjutan dari fasal berikut.]
  • 1699, Bumi Kangkui disuruh oleh Jeneli Kadinding (dari Tambora) menghadap Bumi Renda untuk menjelaskan perkara dengan Karaeng Jaranika dan bersumpah setia kepada Tanah Bima.
  • 1712, Raja Bicara membaharui keputusan Sultan Abi 'l Khair, yaitu beberapa ketetapan pemerintahan dan hukum, seperti tugas dan wewenang Bumi Luma Kae, Bumi Luma Rasana´e, Anangguru Suba, dan gelarang, administrasi peradilan, pemilihan dayang-dayang istana, masuk-keluar dari Mangaji dan Mapota, perkara pertanian, harga sawah, ukuran gantang yang resmi, menukar uang, dan larangan jual-beli pada bulan Muharam, Safar, dan Rabiulawal.
  • 1716, Sultan Hasanuddin dan Raja Bicara memutuskan beberapa ketetapan tentang status berbagai golongan orang Bima serta pembagian anak antara bapak dan ibunya [dari segi darinya].
156 50-54
  • Agustus 1693, Wakil VOC di Makassar memimpin sidang di benteng Rotterdam, mengadili Raja Bima [Sultan Jamaluddin] yang dituduh oleh Raja Dompu membunuh istrinya, Daeng Mami, yaitu bibinya Raja Bima sendiri, pada bulan April 1693. Laporan tentang sidang ini diselingi sebuah surat pernyataan oleh Jeneli Rasana´e dan Jeneli Sape tentang peristiwa ini yang disalin dalam Bo´ pada tgl. 2.9.1693. Selanjutnya, Sultan Jamaluddin ditahan di Makassar sampai bulan Agustus 1694. (Keputusan sidang tidak dicatat. Sebenarnya Sultan dibuang ke Batavia pada tahun 1695 dan meninggal di situ tahun berikutnya.)
172 54-55
  • 1673, Setelah dikalahkan oleh Bima di Taloko, orang Sanggar bersumpah setia pada Sultan Abi 'l Khair.

Manggarai

  • 10.11.1760, Sultan Abdul Kadim menyuruh Tureli Bolo Ismail dan sejumlah pejabat beserta rakyat 1.500 orang ke Gunung Talo di Manggarai sebagai wakil takhta kerajaan Bima; mereka disuruh mendirikan kota dan benteng. Masing-masing pejabat itu bercakap dan esoknya berangkat naik perahu. Setelah beberapa hari, mereka mendapat bantuan dari Gubernur Makassar berupa obat (mesiu), peluru, dan sebuah perahu. Sesudah sepuluh hari berlayar, pasukan Bima sampai di bandar dalam Sungai Gunung Talo. Mereka memilih tempat, mendirikan benteng, dan memasang bendera dan meriam.
180 58-59
  • 30.3.1761, Tureli Bolo mengenakan bea pada orang Makassar yang mencari teripang di situ.
  • 20.11.1761, Tureli Bolo berangkat ke Todo dengan 27 perahu. Sampai di Sungai Ramo, dihadap oleh Dalu Todo dengan persembahannya. Sebuah tempat dipilih.
  • 11.12.1761, Sebuah benteng didirikan di atas Gunung Ramo. Dalu Todo dan Dalu Bajo mengusulkan supaya “mendahulukan” (yaitu menyerang lebih dahulu) Kari Golo.
  • 26.3.1762, Para dalu (kepala daerah) menghadap bersama Ama Ganga. Mereka disuruh minum air keris (mata keris tatarapang dimasukkan dalam botol) seperti orang Bima telah disuruh buat oleh Gubernur Belanda di Makassar. Masing-masing mereka bercakap.
189 56-57
  • 25.11.1762, Dalu Wila dan Dalu Wonto menghadap di benteng Ranggo.
  • 13.12.1762, Tureli Bolo meninggalkan Ranggo sambil membakar bentengnya. Di jalan, Dalu Wila menghadap. Negeri Dalu Rago dibakar. Sebuah benteng dibuat di Tanah Damar. Benteng Manunga diserang tetapi tidak berhasil diambil.
  • 17.7.1763, Tureli Bolo bersidang di dalam benteng Hadra al-Maut, hendak melanggar benteng Larunya. Pasukan dibagi tiga: satu dipimpin oleh Jeneli Woha dan Dalu Wila, satu oleh Jena Luma Mbojo, Dalu Todo, dan Dalu Bajo, satu lagi oleh Bumi Rupe. Sembilan hari kemudian, Jeneli Woha melaporkan sudah mengalahkan beberapa benteng. Gelarang Marasa dan kemudian Gelarang Manonga Ama Petor menghadap memperhambakan diri.
198 60-61
  • 2.8.1763, Tureli Bolo pergi ke benteng Pota. Dalu Sita menghadap di Pota.
  • Beberapa hari kemudian, tokoh-tokoh lain yang telah mengkhianati Bima menghadap juga; mereka dimaafkan. Dalu Todo melaporkan baru berperang dengan orang Cela.
  • 5.8.1763, Dalu Gentar dan anak Dalu Sita menghadap di Pota.
  • 5.9.1763, Dalu Gentar menghadap dengan Dalu Dita dan si Tolo.
  • Tiga hari kemudian, La Dane menghadap.
  • 9.9.1763, Dalu Wila Ama Kasar menghadap.
204 62
  • 9.9.1763, Jena Cenggu diangkat oleh Tureli Bolo menjadi Bumi Pareka Mbojo. Dua bendera merah diberikan kepada Dalu Todo dan Dalu Rowa.
  • 19.9.1763, Tureli Bolo merayakan Maulud di Pota. Dalu-dalu Todo, Reok, Puculeo, Wila, dan Bajo bercakap.
  • 22.9.1763, Tureli Bolo pergi menyerang Cibal. Pasukan dibagi tiga: satu di bawah Jena Luma menunggu benteng Pota, satu di bawah Bumi Waworada berjalan dari kanan, dan satu lagi di bawah pimpinan Tureli Bolo berjalan di kiri. Ketika menghadapi benteng di Gunung Gela, pasukan Tureli Bolo dibagi empat. Pertempuran sengit terjadi dan benteng dialahkan. Dalu Cibal lari tetapi tertembak mati.
208 64, 63, 65
  • 27.9.1763, Orang Cibal menghadap. Tureli Bolo mengingatkan bahwa tanah yang pernah diberikan oleh Sultan Abi 'l Khair kepada Karaeng Bontowa (“ke atasnya Sungai Ramo, ke bawahnya Bari”) dikembalikan kemudian oleh Karaeng Bontowa kepada Sultan Hasanuddin. Orang Cibal bersumpah setia dan meminum air keris.
  • 24.9.1763, Beberapa orang menghadap memperhambakan diri.
  • 1.10.1763, Tureli Bolo pergi ke Wailabi.
  • 9.10.1763, Tureli Bolo bersiap-siap menemui Sultan Bima [Abdul Kadim] di Reok; dia mengangkat dua orang sebagai Dalu Cibal dan Dalu Dengas.
  • 10.10.1763, Tureli Bolo pergi ke Cibal, terus ke Weda Mangola, Wiku, dan kemudian ke Reok. Sultan menyambutnya di tengah jalan. Pertemuan itu dirayakan dengan meriah.
  • 16.10.1763, Orang Bugis si Gatolo disuruh minum air keris. Beberapa hari kemudian, Dalu Leda dan Gelarang Reok datang memperhambakan diri.
  • 15.10.1763, Bumi Pareka Mbojo bertemu dengan Papu Daeng Mangemba di Pota.
218 66-70
  • 7.12.1763, Sultan berlayar ke Kuala Sungai Ramo. Tureli Bolo bertanya kepada orang Makassar Daeng Manganjo, “Mana hingganya Pota dan Reok?” Jawabnya, “Perhinggaannya, sebelah mashrik Pota, sebelah magrib Reok.”
  • 11.12.1763, Daeng si Taba memperhambakan diri.
  • 16.1.1764, Sultan memulai membuat kota batu di atas Gunung Bargolo.
  • 23.10.1763 [agaknya dimaksudkan 19.1.1764], Jeneli Woha Muhyiddin diangkat menjadi Tureli Donggo.
  • 2.4.1764, Dalu Cibal dan Dalu Dengas menghadap dengan persembahan seratus budak dan pakaian emas; mereka dititipi bendera merah dan tombak sebagai ganti diri Sultan Bima.
  • 3.4. 1764, Sultan menyuruh Tureli Donggo kepada Papu, menanyakan Daeng Mamaro.
  • 1.4, Daeng Malaja menghadap.
  • 8.4, Dalu Cibal menyerahkan bendera merah dan tombak yang diberikan oleh Daeng Mamaro.
  • 9.4, Sultan bersiap-siap perang; para hulubalang dibagi antara berbagai pejabat.
  • 20.4, Sultan dihadap oleh Papu Daeng Mangamba. Sultan mengingatkan bahwa daerah Pota “hingga Sungai Ramo” diberi oleh Sultan Abdul Kahir kepada Raja Goa; mulai saat itulah Raja Goa mempunyai wakil (papu) di Pota. Kemudian Sultan Abi 'l Khair memberi Tanah reok “hingga Bari” kepada Karaeng Bontowa, namun selanjutnya dikembalikannya kepada Sultan Hasanuddin. Sekarang Bima merebut kembali tanah miliknya di Manggarai dengan persetujuan Kompeni. Kemudian Tureli Bolo menceritakan bagaimana Sultan Abi 'l Khair ikut perang Raja Goa di Bone dan di Buton dan bagaimana selanjutnya Raja Bima membunuh beberapa orang Makassar atas suruhan Raja Goa.
  • 28.4, Sultan pergi ke Ramo. Daeng Malaja, Dalu Leda, dan lain-lain menghadap. Dalu Leda membenarkan bahwa Reok dan Pota “hingga Sungai Ramo inilah, sebelah magrib Tanah Reok dan sebelah masyrik Tanah Pota”. Dua hari kemudian, Sultan kembali ke Reok.
  • 2.5.1764, Diberitakan bahwa Sultan akan pulang ke Bima.
  • 15.5, Sultan berangkat. Di Bari, Gelarang Bari, Dalu Pacar, dan lain-lain menghadap dengan membawa persembahan. Sampai di Sungai Gunung Talo, Sultan dihadap oleh Dalu Kampo dan banyak dalu lain. Tgl. 24, Sultan berlayar meninggalkan Gunung Talo. Selama beberapa hari itu, Sultan diberikan persembahan budak 38 orang, selain daripada beras, kelapa, gula, sirih pinang, kerbau, kuda, ayam, tikar, dan lilin dalam jumlah banyak; dia membeli sebuah perahu bertiang dua dengan harga 3 orang budak. Selanjutnya, Tureli Bolo kembali ke Reok. Waktu singgah di Boli, dia menanyai Dalu Boli tentang perbatasan antara Boli dan Bari dan dia menyatakan, “bandang yang dibuat oleh orang yang tiada lagi anak cucunya, aku memegangnya.”
232 70-71, 19, 18
  • 14.7.1764, Tureli Bolo dan para pejabat Bima serta dalu-dalu diberikan jabatan di Bandar Reok. Tgl. 12, seorang pejabat lain diangkat. Tgl. 29, Jawu La Gandi menghadap.
  • 5.9.1764, Tureli Bolo membicarakan perkara tanah antara Dalu Wonto dan Dalu Wela.
  • 16.10.1764, Tureli Bolo membicarakan perkara serupa antara Dalu Todo dan Ama Ncara.
  • 2.11.1764, Dua orang diberi jabatan. Tgl. 4.2.1765, sebuah benteng didirikan di Tanggoramo.
  • 26.3.1765, Tureli Bolo membicarakan sebuah perkara pembunuhan.
  • 1.4.1765, Fetor Bima datang dari Makassar; sembilan hari kemudian dia pergi ke Bima.
  • Bulan Oktober 1765, datang kabar para dalu sudah berontak dan Raja Tureli Donggo dikepung musuh. Tgl. 12, Tureli Bolo berangkat untuk menolongnya. Pertempuran terjadi di Cagu, Ranggo, Wela, dan Ligi, sampai bertemu dengan Tureli Donggo. Tgl. 30, musuh sudah dialahkan.
  • 10.11.1765, Tureli Bolo sangat marah karena Bumi Punti membunuh seorang tawanan tanpa disuruh. Para dalu memohonkan ampun untuk Bumi Todo.
  • 18.11, Para dalu pemberontak menghadap dan memperhambakan diri. Mereka disuruh minum air keris dan dipotong rambut di ubun-ubunnya.
  • 14.12.1765, Tureli Donggo pergi mendirikan benteng di Wiula. Di situlah terjadi pertempuran selama satu bulan.
  • 17.11.1766, Di Wolowaru, Tureli Bolo dan Tureli Donggo merayakan kemenangannya. Tgl. 19.12, Dalu Ranggu menghadap; dia disuruh minum air keris dan dipotong rambutnya.
  • 19.12.1766, Dua orang diberi jabatan.
  • 20.7.1767, Jena Mone Wera meninggal; beberapa hari kemudian seorang diangkat sebagai penggantinya.
246 20-23
  • Peringatan nama pejabat Bima sebanyak 22 orang yang diberikan seorang budak masing-masing di Wolowaru.
  • 20.7.1767 (?), Dalu Ranggu dipenjarakan karena tidak membayar upeti.
  • 25.9.1767 (?), Tureli Bolo memberikan bendera merah atau hitam kepada empat orang dalu. Selama di Wolowaru, Tureli Bolo menerima utusan dari Sultan Bima, minta 100 budak untuk membayar utang kepada Kompeni; Tureli Bolo menyuruh para dalu untuk mencarikan budak itu, yang segera diantarkan ke Bima.
  • 17.9, Pertempuran baru terjadi, yang baru selesai tgl. 7.11 dengan direbut dan dibakarnya benteng Rosa.
  • 11.12.1767, Dalu Wela menghadap.
  • 29.12, Ama Kiwu menghadap.
  • 28.12, Dalu Todo diangkat sebagai kepala semua dalu.
  • 30.12 (?), Tureli Bolo bersenang-senang di Reok. Seorang diangkat sebagai syahbandar.
  • 28.12, Orang-orang Cibal menghadap, namun Dalu Cibal tidak hadir.
  • 1.2.1768, Tureli Bolo menanyakan orang Cibal tentang dalu mereka.
  • 25.4.1765, Tureli Donggo pergi ke Todo, meminta upeti budak kepada segala dalu. Dalu Wela memberontak, namun dialahkan.
  • 21.5.1768, Tureli Bolo mendirikan mesjid di Reok.
  • 12.3.1768, Wakil Fetor Bima datang dari Ujungpandang.
260 23, 72-78
  • 31.3.1768, Tureli Donggo mengunjungi beberapa tempat dan menguji kesetiaan dalu-dalunya.
  • 11.8.1768, Anak Tureli Bolo disunat.
  • 14.1.1769, Para dalu menghadap Raja Bima. Dalu Todo diberikan sebuah keris tatarapang; dalu-dalu lain diberikan senapan. Contoh surat (tgl. 14.4.1769) yang diberikan kepada Papu, Dalu Todo, dan Dalu Leda, yaitu surat pernyataan oleh Sultan Abdul Kadim, bahwa Pota telah dialahkannya dan seluruh daerah di sebelah barat Sungai Ramo adalah milik Raja Bima. (Fasal ini disalin ulang pada h. 105-106; surat aslinya dimuat dalam Lampiran III.)
  • 15.3.1769, Tureli Bolo sebagai punggawa besar mengatur siasat untuk menyerang Pota. Pasukan Tureli Donggo pertama berangkat melalui jalan darat, disusul pasukan Anangguru Sumpi menyusuri pantai. Sultan berangkat kemudian naik perahu. Sekitar satu bulan kemudian benteng Pota direbut. Benteng Pawo direbut pula. Daeng Tamimang dan Karaeng Balak menyerahkan diri. Tgl. 22.4, Sultan mengangkat Daeng Malaja sebagai Papu. Hal pemerintahan Pota dibicarakan. Tgl. 29.4, Sultan berlayar ke Reok dengan maksud pulang ke Bima dan kemudian pergi ke Makassar.
284 78-85
  • 22.5.1769, Dalu Todo dan Dalu Leda diberikan sebuah surat resmi oleh Sultan Bima sebagai tanda kekuasaan Bima atas Pota.
  • 7.12.1769, Tureli Bolo berangkat ke Bima, baru tiba tiga minggu kemudian. *
  • 16.4.1792, Sultan Abdul Hamid pergi berlayar ke Makassar naik perahu Waworada; perahu yang mengiringnya sangat banyak, termasuk Sirat al-Dunia yang ditumpangi Tureli Belo. Tureli Donggo Abdul Nabi dan Fetor Bima juga ikut berlayar. Mereka singgah enam hari di Batu Pahat (dalam Teluk Bima) untuk menanti saat yang baik. Maka pada tgl. 1 Ramadan (23.4) layar diangkat, namun angin dan arus begitu kencang sampai segala perahu cerai-berai dan Sultan mencapai Ujungpandang (7.5) tanpa iringan. Sultan ditempatkan dalam sebuah rumah di Kampung Baharu dekat pantai, dan beberapa hari kemudian pergi bertemu dengan Gubernur. Kereta Sultan berjalan bersama iringan besar; orang di jalan ramai menonton. Di benteng Rotterdam, Gubernur bertanya tentang Manggarai dan tentang pemberontakan Jeneli Sape. Selama beberapa hari sesudah itu, Sultan mengunjungi para pejabat Belanda terpenting. Tgl. 26.5, Sultan dan para pejabat Bima bertemu lagi dengan Gubernur; mereka disuruh minum air keris dan menandatangani surat perjanjian dengan Kompeni. Selanjutnya Gubernur menyuruh Sultan mencari penyelesaian dengan Jeneli Sape. Beberapa hari kemudian, Gubernur membawa Sultan berkeliling kota dan menjamunya makan bersama segala orang besar Belanda. Sultan ingin cepat pulang ke Bima karena musim Barat sudah dekat, namun disuruh sabar dulu. Sultan bertemu dengan Karaeng Balasari. Tgl. 5.6, Sultan menerima surat dari Gubernur Jendral di Batavia, yang disambut dengan 17 bunyi meriam. Surat itu dibaca oleh Sultan sendiri karena berisi urusan rahasia tentang orang Inggris di Sumbawa. Pada hari-hari berikutnya Sultan masih sempat berjumpa dengan beberapa orang Belanda dan Makassar, serta memberikan dan menerima berbagai persembahan. Akhirnya, tgl. 13.6, Sultan naik perahu Waworada dan berlayar pulang ke Bima. Sebelas hari kemudian sampai di Teluk Bima dan dielu-elukan secara besar-besaran.
313 85-88
  • 1.2.1792, Peraturan Sultan Abdul Hamid tentang kelima dari yang harus menyediakan orang mbani.
  • 22.8.1804, Sultan Abdul Hamid membuat payung kerajaan; Raja Bima Abdul Nabi membuat sejumlah alat musik kebesaran dan mengangkat beberapa pejabat rendah.
  • 4.12.1809, Sultan Abdul Hamid menetapkan peraturan tentang syarat orang dari Maputa hendak mengawini seorang Rato.
  • 4.6.1810, Sultan pergi mandi di Sungai Salama karena baru sembuh.
  • 31.5.1811, Jeneli Woha Wa´u dihukum karena bersalah terhadap adat.
  • 13.9.1713, Sultan Hasanuddin mengizinkan anaknya sendiri menjadi Melayu, tidak masuk peranakan Bima.
  • 6.10.1806, Sultan Abdul Hamid mengesahkan surat Sultan Hasanuddin kepada Encik Bagus (yaitu surat sebelumnya) yang dipegang oleh keturunannya Khatib Lukman.
  • 11.4.1815, Gunung Tambora meletus.
  • Harga kebun di beberapa tempat.
  • 5.8.1799, Tureli Donggo membeli berbagai tanah di Raba Kodo seharga 320 real.
  • Raja Bicara Abdul Nabi membeli tanah.
  • 15.8.1809, Tureli Woha membayar utangnya kepada Sultan.
  • 31.10.1852, Raja Bima Muhammad Yakub mengesahkan dua orang keluar dari dari Paruwa.
  • Empat akte pembelian tanah pada akhir tahun 1852.
  • 26.4.1853, Seseorang memberikan budaknya sebagai gantinya menjadi orang Saturu Donggo.
  • 13.6.1853, Seorang budak ditebus dan masuk dari Padolo.
326 89-92
  • Teks kontrak pertama antara Bima dan Dompu dengan Kompeni, yaitu antara kedua pengganti Sultan Bima dan Dompu dengan Admiral Speelman, yang ditandatangani pada tgl. 1.10.1669 di Makassar. (Versi Belanda dari kontrak tersebut dimuat dalam Lampiran II.)
  • Surat permintaan dari Raja Bima dan Dompu yang diantarkan oleh utusan mereka ke Batavia dan disalin di situ tgl. 26.12.1673 beserta komentar dari Raad van Indië.
  • Surat Raja Bima dan Raja Dompu kepada Speelman tahun 1669, meminta maaf karena tidak dapat datang sendiri dan menunjukkan utusan (yaitu untuk menandatangani kontrak di atas).
337 93-96
  • Perjanjian Raja-raja Dompu, Tambora, Sanggar, Kore, dan Pekat dengan Kompeni, tgl. 18.4.1701. (Versi Belanda perjanjian ini dimuat dalam Lampiran II.)
  • Surat pengakuan Sultan Alauddin sebagai Raja Bima oleh Gubernur Belanda, tgl. 28.12.1731. (Versi Belanda perjanjian ini dimuat dalam Lampiran II.)
344 96
  • Surat Gubernur Makassar kepada Raja Bima (Sultan Ismail) tgl. 30.7.1827, antara lain meminta agar Sultan menyediakan kayu sapang, sambil memperingatkan bahwa Sultan tidak boleh menerima budak sebagai upeti.
  • Dua akte pembelian tanah, tahun 1854 dan 1855.
349 97-101
  • 6.3.1846, Majelis Adat Bima membicarakan hal-ihwal Manggarai, antara lain ganti rugi yang diminta Kompeni atas penjarahan sebuah kapal Arab yang karam di daerah Pota. Esoknya, Raja Bicara berangkat ke Manggarai dengan pasukan sebanyak 14 perahu, yang kemudian dibantu oleh 16 perahu lain. Raja Bicara singgah di Reok, kemudian bertemu dengan Naib Pota, dan menyampaikan titah Sultan, agar datang menghadap di Bima. Raja Bicara kembali ke Reok, memeriksa keris tatarapang dan meriam; kembali ke Pota untuk menjemput Naib Pota dengan adat kebesaran; kembali lagi ke Reok, sempat mengejar empat perahu bajak. Tgl. 7.5, semua perahu berlayar pulang ke Bima; setibanya di Bima, mereka disambut dengan meriah.
366 102-104
  • Lanjutan perkara kapal Arab yang karam di Manggarai. Di Bima, Naib Pota diinterogasi oleh Raja Bima; menurut pengakuannya, para juragan Arab telah merelakan seluruh isi kapal tersebut kepadanya, namun setelah pulang ke negerinya, mereka mengadu kepada Kompeni di Batavia; sebuah komisi disuruh ke Bima dan memperkirakan ganti ruginya sebesar 10.830 Rupiah perak. Tgl. 15.5.1846, Adat Bima membayar ganti rugi tersebut.
  • Surat Gubernur Celebes kepada Sultan Bima tgl. 8.7.1852, memberitahukan bahwa Gubernur telah dianugerahi bintang Ridder Orde van der Nederlandsche Leeuw.
  • 19.12.1852, Dicatat hal seorang Bima yang didenda karena mengadukan perkaranya kepada Fetor Bima.
  • 14.1.1853, Mulai upacara sunat Muhammad Yakub, putra Raja Bicara Abdul Nabi. Upacara sangat meriah ini berlangsung selama 18 hari.
  • 27.10.1853, Seseorang pindah dari.
  • 1855/56, Akte penjualan tanah.
  • 23.11.1856, Seseorang memerdekakan dua orang hambanya untuk mengganti dirinya sebagai anggota dari Gendang.
385 E
  • Persiapan sebuah upacara; antara lain dideskripsikan berbagai pakaian kebesaran.
   

Manggarai

387 105-106
  • 25.2.1781, Naib Sultan Bima di Reok suruh menyalin fasal dari Bo´ tua tentang penaklukan Pulau Sumba pada zaman Makapiri Solo (lih. h. 32-33) dan hubungan dengan Sumba selanjutnya. Tanah Manggarai dikuasai Bima mulai zaman yang sama, namun sebagian pernah diberikan oleh Sultan Abdul Kahir kepada Sultan Goa Hasanuddin dan sebagian lain oleh Sultan Abi 'l Khair kepada anak Sultan Goa. Setiap keputusan majelis Adat Bima harus dicatat dengan terperinci.
  • Salinan surat Bima tgl. 14.4.1769 kepada Papu, Dalu Todo, dan Dalu Leda. (Fasal ini telah disalin pada h. 73-74; surat aslinya dimuat dalam Lampiran III.)
  • 24.4.1779, Jeneli Parado memberitahukan kepada Papu Daeng Malaja bahwa Pota sekarang ada di tangan Bima dengan persetujuan Kompeni sebab Goa telah dialahkan oleh Kompeni.
399 107, 15, 14, 108-110
  • 19.3.1784, Sultan Abdul Hamid dan Tureli Bolo menyimpulkan jumlah daerah Manggarai yang di bawah kekuasaan Bima. Nama semua kampungnya dicatat dalam beberapa tabel (dan juga didaftarkan dalam sebuah artikel oleh D.F. van Braam Morris, 1891; kedua versi tersebut dimuat dalam Lampiran IV). Disebut juga jenis upeti yang patut dibawa setiap gelarang dan dalu, berupa budak, tikar, dan lilin. Tabel-tabel itu disusul silsilah beberapa dalu. *
416 111-113
  • Tiga akte tahun 1858-59 tentang budak dimerdekakan, budak menebus dirinya, dan seorang diangkat menjadi Matoa Sape.
  • 1.8.1860, Dicatat perkara seorang haji yang berzina dengan seorang anak saudaranya sendiri, sehingga kena hukuman dipukul rotan 40 kali oleh keempat khatib di dalam mesjid, dan beritanya dicanangkan di sekeliling negeri.
  • 6.1.1861, Sebuah kapal asap Belanda meminta bantuan Bima untuk menangkap bajak laut (disebut bajak, lanun, dan Tobelo) di Pulau Sailus. Sesudah 28 hari, ekspedisi ini berhasil menangkap 189 bajak laut, sedangkan 50 yang lain terbunuh; orang Bima yang mati 9 dan yang luka 5.
  • Dua akte penjualan tanah, tahun 1862.
425 24-25
  • Empat belas akte tahun 1793
  • 1815, dan 1852 tentang pembelian dan penukaran tanah, pembayaran utang, penebusan barang yang digadai oleh Sultan dan penyerahan budak sebagai ganti diri menjadi anggota satu dari. Antara lain, Tureli Donggo membeli berbagai tanah antara tahun 1793 dan 1803 seharga 2.397,5 real (lih. h. 85-88, tgl. 5.8.1799).
431 114-115
  • Empat akte, tahun 1862-67, masa Raja Bicara Muhammad Yakub, tentang penjualan tanah, orang masuk satu dari, dan budak dimerdekakan. Ditambah surat Raja Bicara kepada Fetor Bima, tgl. 6.3.1866, tentang Sanggar, dan penetapan tgl. 22.8.1867 tentang jenis persembahan yang orang Pulau Sangiang harus bawa ke istana dua kali setahun.
434 115-116
  • Tiga akte penjualan tanah, tahun 1884, masa Raja Bicara Abdul Aziz.
438 118
  • Bulan Februari 1865, surat (dari Gubernur Makassar?) kepada Sultan Bima; isinya menyambut dengan gembira berita Sultan telah berdamai dengan Raja Bicara.
  • 28.3.1865, Diterima surat tgl. 14.2.1864 (!) dari Gubernur Celebes yang baru, yang memperkenalkan diri.
  • 23.5.1866, Surat kuasa dari Raja Bicara untuk Nakhoda Baba Iyu Sukun, agar memutuskan segala perkara penjualan teripang di Reok dan Pota.
  • 19.6.1865, Surat (agaknya dari Gubernur Celebes) kepada Sultan tentang perkara seorang hamba yang lari, dalam hubungan dengan pelarangan menjual budak.
441 119
  • 13.12.1865, Akte pembayaran utang.
  • 23.2.1866, Surat kuasa Raja Bicara untuk seseorang, agar mengurus hal-ihwal orang Bima di Sanggar dan Tambora.
  • 24.10.1866, Surat (dari Gubernur Belanda di Makassar?) kepada Sultan Bima tentang batas negeri Sanggar dengan Dompu.
442 10
  • Surat tahun 1866 dari paduka kakanda [Gubernur Belanda di Makassar ?] kepada paduka adinda [Sultan Bima]; isinya meminta agar menyambut baik anakanda Mapasusung, yang pergi ke Bima secara diam-diam.
443 11
  • 20.6.1801, Sultan Abdul Hamid menggelarkan Tureli Donggo Abdul Nabi menjadi Raja Bicara. Upacara dideskripsikan.
  • Beberapa catatan kelahiran: Abdul Nabi (bakal Raja Bicara), tgl. 20.10.1751; dua anak Sultan Abdul Hamid, tahun 1797; tujuh anak Abdul Nabi, 1791-1810; dua anak Bumi Jara Bolo, 1805-1807.
446 12
  • Empat belas catatan kelahiran: dua anak Sultan Abdul Hamid [sama dengan h. 11]; dua anak Abdul Nabi, 1805 & 1809; sepuluh anak berbagai pejabat, 1810-1826.
448 13
  • Enam catatan wafat, 1803-1839.
  • 1851, Akte pengesahan seseorang pindah dari dari Pabise Mbojo ke dari Paranaka Melayu.
  • 24.4.1851, Pernyataan Sultan Bima, memperkenankan pengangkatan Raja dan Raja Bicara Ende.
452 F
  • 3.8.1853, Surat dari raja-raja di Ende kepada Sultan Bima, memberitahukan bahwa Indra Dewa telah diangkat sebagai raja.
452 D
  • Catatan kelahiran lima orang anak Bumi Jara Mbojo Yakub, 1835-1861, dan kematian salah seorangnya pada umur 15 bulan.
453 120
  • 1.6.1877, Perkara seorang budak yang disuruh bunuh oleh Sultan, namun dibela oleh orang setempat, sehingga menimbulkan huru-hara; perkara ini diselesaikan oleh Fetor.
455 9, 8, 7, 6, 5, 4
  • Dua puluh enam akte tahun 1860-1879, pada masa Raja Bicara Muhammad Yakub, sebelas di antaranya tentang penjualan tanah (termasuk dua oleh seorang budak), yang lain-lain tentang urusan perbudakan (menjadi budak, budak dimerdekakan, ditebus, atau dijual), urusan dari (tujuh akte tentang orang menjadi atau disahkan sebagai anggota satu dari; batas tanah dua dari), dan soal warisan.
  • 2.9.1868, Sultan Abdullah memperbarui sumpah Sultan Abdul Kahir di Raba Parapu (sekitar tahun 1620; lih. h. 35a) atas permintaan seorang keturunan dari salah seorang pengikut Sultan waktu itu.
472 3, 2, 1
  • Delapan akte tahun 1879-86, masa jabatan Raja Bicara Abdul Aziz, tentang penjualan tanah, dan satu tentang pengakuan utang.
477 A
  • 1898, Sultan Ibrahim memperbarui satu surat ketetapan oleh Sultan Abdul Aziz tahun 1880 berisi kaidah dasar pemerintahan Bima, disusul beberapa peraturan hukum.